Today 23 °C
Tomorrow 30 °C
Saturday 29 °C

Error message

Notice: Undefined offset: 1 in counter_get_browser() (line 70 of /home/flpialin/public_html/sites/all/modules/counter/counter.lib.inc).

Program Sarjana Plus Logistik Peternakan IPB Menggelar Studium General dengan Tema :"Complete Poultry Transport Service"

Bogor- Program Sarjana Plus Logistik Peternakan IPB menggelar kembali Studium General ke-3 pada hari Rabu, 15 November 2017 di Ruang Sidang Fakultas Peternakan Kampus IPB , Darmaga Bogor. Studium General kali ini merupakan rangkaian dari kegiatan perkuliahan pada mata kuliah Live Animal Transportation yang diampu oleh Dr.Ir Rudi Afnan, MScAgr.  Studium Generale ini juga turut mengundang para mahasiswa Pascasarjana beserta staf dosen di Fakultas Peternakan IPB sebagai peserta. Kegiatan Studium General ini diikuti secara antusias oleh 37 peserta yang terdiri dari mahasiswa Sarjana Plus Logistik Peternakan, mahasiswa Pascasarjana Fakultas Peternakan IPB dan staf dosen.

Dosen tamu yang diundang adalah dari kalangan praktisi, yaitu Eko Djatmiko. Beliau adalah alumni IPB lulus pada jurusan Teknologi Pangan tahun 1983. Eko telah berpengalaman selama 5 tahun sebagai Direktur pada perusahaan transportasi. Materi yang disampaikan dalam Studium General ini lebih difokuskan mengenai layanan transportasi unggas. Kegiatan pemaparan dilakukan bersama dengan tanya jawab secara langsung dari para peserta.

Berikut adalah beberapa point pembahasan pada Studium General  terkait layanan transportasi unggas:

  1. Transportasi merupakan salah satu bagian dari kegiatan logistik. Kegiatan layanan transportasi berorientasi pada on time delivery, quality, documentation, communication dan cost.  Sedangkan faktor-faktor yang diperhatikan untuk mencapai level layanan transportasi tersebut adalah man, money, material, machine, system.
  2. Pada pengangkutan produk telur tetas (hatching eggs/ HE) memiliki karakteristik: Sensitif terhadap goncangan, sensitif terhadap suhu, beda usia induk berbeda pula tingkat sensitivitas telur yang dihasilkan, sterile environment.
  3. Karakteristik truk HE yang dipakai adalah truk dengan desain per tersendiri (kapasitas 37.000 butir), memiliki suhu spesifik yang dapat dimonitoring via GPS dan Logger, membutuhkan sterilisasi truk secara reguler, truk yang menggunakan pendingin dialokasikan wilayah jabodetabeksuci (suhu 18 – 21 0C) dan truk yang menggunakan sistem ventilator dialokasikan untuk wilayah diluar jabodetabeksuci.
  4. Contoh penyebab faktor susut HE antara lain umur induk telur yang sudah tua dan kondisi jalan menuju farm rusak parah. Di lapang para supir truk biasanya telah memiliki pengetahuan mengenai memilah penyimpanan telur dalam tray untuk mengurangi resiko susut. Para supir ini biasanya telah dibekali pelatihan oleh perusahaan layanan transportasi ataupun  oleh konsumen. Key Perfomance Index (KPI) dari konsumen perusahaan transport biasanya menjadi acuan penetu KPI supir pengangkut HE.
  5. Pada pengangkutan produk anak ayam satu hari (Day Old Chick/DOC) memiliki karakteristik: sensitif terhadap sirkulasi udara, sensitif terhadap suhu. Lokasi distribusi produk di pedalaman, perbukitan atau pegunungan, umur produk dan membutuhkan lingkungan yang steril.
  6. Karakteristik truk DOC yang dipakai adalah desain box tersendiri (CDD: 160 box DOC / 16.000 ekor), memiliki ventilasi untuk mengatur sirkulasi udaradengan diluar box, Memiliki kipas / fan dalam box dan  membutuhkan sterilisasi truk secara reguler.
  7. Pada pengangkutan produk unggas hidup (Live Bird/LB)  memiliki karakteristik: umur produk, sensitif terhadap suhu, susut terhadap waktu, just in time delivery untuk bahan baku utama produksi, lokasi muat berada di pedalaman, perbukitan dan atau pegunungan
  8. Karakteristik truk dan proses untuk LB antara lain : Desain box dan suspensi tersendiri, monitoring posisi via GPS, produk harus disiram pada waktu tertentu, proses waktu sangat ketat karena merupakan bahan baku utama  (produksi non stock).

Menurut Eko, pengangkutan LB jauh lebih rumit dan banyak menghadapi tantangan dan resiko dibandingkan produk unggas HE dan DOC. Titik kritis LB adalah masa waktu transportasi ke lokasi tujuan (Rumah potong Ayam).Komplain terjadi saat bongkar muat, setelah serah terima barang. Jenis komplain dari konsumen poultry biasanya jumlah produk, kemasan dan kualitas. Pelaku transporter masih kesulitan untuk mitigasi resiko dikarenakan jarang sekali perusahaan asuransi bersedia mengcover produk unggas. Eko berharap para peserta Studium General yang sebagian besar adalah mahasiswa lulusan sarjana diharapkan mampu mengembangkan konsep sistem bisnis transportasi peternakan dengan memperhatikan waktu pengiriman , kualitas produk dan biaya. 

Kategori: 

Partner